Sastra adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sastra lebih dari sekedar dunia imajinatif, perekam segala yang terjadi, pameran karya, bahkan lebih dari penampilan sebuah kejaiban. Banyak sekali orang yang tidak mengetahui apa sastra itu sebenarnya. Padahal hampir setiap hari kita menemukan karya sastra, antara lain adalah novel, cerita, cerpen, syair, pantun, drama, lukisan dan kaligrafi.
Tanpa kita tahu apa definisi tepat dari sastra,
kita bisa mengibaratkan sastra dengan
teko dan gelas yang disajikan di warung makan. Pelayan di dapur yang menuangkan
air teko ke dalam gelas bagaikan sesorang yang membuat karya sastra, sedangkan
tamu yang dijamu segelas air bagai penikmat karya sastra. Tamu-tamu yang ada di
warung makan cukup memesan kemudian menikmati apa yang disajikan oleh pelayan.
Sama seperti masyarakat yang cukup menikmati karya sastra yang dilahirkan oleh
si pembuatnya. Sastra memiliki ciri khusus yaitu merupakan cabang seni yang
menggunakan media kata-kata, bahasa, tulisan dan ucapan.
Secara
urutan waktu sastra Indonesia dibagi menjadi Pujangga Lama yang di dominasi
oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat, sastra melayu lama, Angkatan Balai Pustaka
yang didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul
dan liar yang dihasilkan oleh sastra melayu rendah yang banyak menyoroti
kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar), Pujangga
Baru, Angkatan '45 yang diwarnai pengalaman hidup dan gejolak
sosial-politik-budaya dan karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding
karya angkatan pujangga baru yang romantik - idealistik., Angkatan 50-an, Angkatan
66-70-an, dasawarsa 80-an , Angkatan reformasi dan Angkatan sekarang ini yaitu
angkatan 2000-an.
Dewasa ini kehidupan sastra kita didominasi oleh
sastra yang realis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun ke
depan, kiranya sastra masih didominasi dengan hal yang sama. Apalagi problem
sosial-politik-ekonomi-hukum di Indonesia yang juga belum beres-beres menjadi
realita untuk bahan para sastrawan kita untuk menyajikan bebagai macam karya
sastra yang dipaparkan lewat berbagai media seperti surat kabar, televise,
radio, bahkan lewat media internet.
Sastra juga identik dengan kehidupan percintaan.
Banyak macam karya sastra yang menjadikan hal tersebut sebagai temanya, antara
lain adalah puisi, novel, cerpen, drama, dan lagu. Di level remaja dan dewasa
saja sudah banyak dari mereka yang ikut serta dalam pembuatan karya sastra.
Diberbagai toko buku sudah banyak antologi puisi karya mahasiswa, di berbagai
media cetak banyak terpampang novel dan cerpen, di panggung-panggung lokal
banyak dipentaskan berbagai macam drama. Berarti potensi untuk melahirkan
jutaan karya sastra itu sendiri sudah dimiliki oleh Indonesia.
Untuk melihat wajah sastra Indonesia di masa depan
kita juga perlu membuka mata kita membaca sastra Indonesia saat ini. Sudah
lahir masyarakat kita yang sangat berpotensi untuk menciptakan karya sasta baik
yang memberikan rasa senang, memberikan informasi, memberikan ajakan positif,
mendidik, mengkritik kehidupan sosial, budaya dan politik, bahkan sampai
mengangkat cerita dari kehidupan nyata. Potensi tersebut bisa didapat mulai
dari anak kecil, remaja, dewasa, dan para senior sastra Indonesia. Sastra
merupakan suatu kebebasan yang bisa merubah banyak hal melalui
kritik-kritiknya.
Beberapa hal yang menjadi hambatan ataupun masalah
sastra adalah media. Karya sastra yang dipostingkan melalui surat kabar,
majalah, dan buku nampaknya sudah jarang diminati oleh masyarakat luas. Untuk
mendapatkan berita saja masyarakat sudah cukup menonton televisi atau
membacanya melalui situs-situs internet. Hal tersebut memang lebih simple dan
murah daripada harus membeli surat kabar atau majalah setiap harinya. Untuk
membaca puisi, masyarakat tanpa harus repot-repot mengeluarkan sejumlah uang
untuk ke toko buku dan membeli buku antologi puisi, cukup mengetikkan keyword di dalam search engine lalu muncul berbagai
macam puisi. Selain itu minat rendah untuk menikmati karya sastra yang apik
juga di miliki oleh masyarakat, contohnya saja jika ada pementasan drama di
sebuah kota pasti sebagian besar penonton adalah pelajar dan mahasiswa.
Media sosial seperti facebook dan twitter sekarang ini bisa menjadi media yang diakses lebih
mudah. Banyak juga yang mempostingkan hasil karyanya lewat media tersebut.
Tetapi untuk selalu eksis di dunia maya itu tidaklah semudah membalikkan
telapak tangan. Perlu berbagai macam perjuangan agar teman-teman dunia maya
tertarik membaca karya sastra. Belum lagi jika terjadi plagiat, menjiplak karya
tanpa mencantumkan sumbernya. Ada media lain lagi seperti blog, kompasiana,
kaskus, dan forum-forum lainnya untuk mempublikasikan karya sastra. Sayangnya
walaupun jaringan internet sudah sampai ke pelosok desa, tetapi masih banyak
juga masyarakat yang belum bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan maksimal.
Tantangan lain juga hadir dari karya sastra itu
sendiri seperti puisi, cerpen, dan novel atau bahkan lukisan. Karya sastra yang
demikian memiliki ciri khas bahasa yang khusus sehingga hanya membaca saja
masyarakat sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh si penulis. Contoh
lain, seorang guru memberikan contoh hikayat kepada pelajar SMA, sebagian besar
dari mereka juga belum bisa mengartikan kalimat-kalimat yang digunakan dalam
hikayat yang identik dengan istanasentris. Jadi, bagaimana bisa masyarakat luas
seperti ibu bapak kita menikmati sepucuk puisi dari sastrawan handal sekalipun.
Karya sastra yang menggunakan bahasa ibu yang indah
saja sudah banyak masyarakat yang tidak bisa mengerti dan menikmati. Apalagi
dengan adanya perdagangan bebas dan menipisnya jarak antar bangsa yang menuntut
menggunakan satu bahasa yang sama. Bahasa Inggris telah mengglobal, semakin
lama bahasa di dunia ini hisa jadi mengerucut menjadi satu bahasa. Tanpa adanya
pertahanan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan kuat akan dibawa kemana lagi
bahasa dan sastra Indonesia yang indah ini?
Perkembangan teknologi dan bahasa Inggris yang mulai
mengglobal dan menipisnya jarak antar bangsa bisa jadi melatarbelakangi
sastrawan tanah air mempostingkan karyanya dalam bahasa Inggris dan dimuat di
forum atau blog asing. Banyak sekali potensi tetapi wadah di Indonesia tidak
memadahi.
Tema sastra yang diangkat juga terkesan monoton.
Didominasi oleh tema-tema tertentu. Di sisi lain, hebatnya sastrawan yang tadinya
bukan sastrawan seperti Andrea Hirata mampu muncul dengan tema yang berbeda.
Kemunculannya di dunia sastra juga banyak menguntungkan Bangka Belitung, tempat
di mana shooting film yang diangkat
dari novelnya dilakukan. Dari sektor pariwisata, banyak wisatawan Indonesia
bahkan luar negeri yang datang ke Bangka Belitung, negeri Laskar Pelangi. Di
sektor keuangan hal tersebut juga berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan
daerah. Sungguh beliau adalah sastrawan yang luar biasa. Menerbitkan tetralogy Laskar Pelangi dengan label best seller, film yang diminati
masyaraka luast, sampai tempat shooting
filmpun diburu oleh para wisatawan. Sayangnya, tidak banyak sastrawan kita yang
bernasib sama dengan beliau.
Sayang sekali jika potensi masyarakat di Indonesia
yang besar untuk terjun ke dunia sastra terhambat oleh segala faktor yang ada.
Sangat sempit celah untuk menuju ke permukaan. Sastra dipandang hanya sebagai
karya biasa, tidak membawa efek perubahan untuk kehidupan nyata. Sastra tidak
menyentuh masalah mereka. Padahal kekuatan sastra itu sangatlah dahsyat,
meskipun secara langsung sastra tidak bisa melunasi hutang negara, melamar
kekasih orang, menyantuni anak jalanan, membangun sekolah yang roboh, menjerat
korupsi dengan hukuman mati, atau membangkitkan mayat sekalipun. Sastra memang
tidak dapat melakukan itu, tetapi kekuatannya bisa berpengaruh terhadap
terjadinya hal-hal tersebut.
Potensi sudah sangat memadahi dari segi kuantitas,
perlu mengasah segi kualitas seperti selalu siap untuk kreatif, selalu tanggap
dengan perkembangan jaman, anti pasif, kecerdasan dalam pemilihan diksi,
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, harus kebal dalam menghadapi
segala tantangan yang terjadi dan mengantisipasi bahasa yang mulai mengglobal. Sastra
di negeriku lebih perlu catwalk mewah dan wangi untuk pamer tampang.
Sastra akan bangkit di masa depan, dari Indonesia,
karena Indonesia dan untuk Indonesia karena sebenarnya sastra Indonesia tidak
akan pernah mati selama masyarakat Indonesia ada untuk Indonesia.
