Senin, 22 April 2013

POTENSI YANG BESAR BERBANDING LURUS DENGAN TANTANGAN YANG BESAR



Sastra adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sastra lebih dari sekedar dunia imajinatif, perekam segala yang terjadi, pameran karya, bahkan lebih dari penampilan sebuah kejaiban. Banyak sekali orang yang tidak mengetahui apa sastra itu sebenarnya. Padahal hampir setiap hari kita menemukan karya sastra, antara lain adalah novel, cerita, cerpen, syair, pantun, drama, lukisan dan kaligrafi.
Tanpa kita tahu apa definisi tepat dari sastra, kita bisa mengibaratkan sastra dengan teko dan gelas yang disajikan di warung makan. Pelayan di dapur yang menuangkan air teko ke dalam gelas bagaikan sesorang yang membuat karya sastra, sedangkan tamu yang dijamu segelas air bagai penikmat karya sastra. Tamu-tamu yang ada di warung makan cukup memesan kemudian menikmati apa yang disajikan oleh pelayan. Sama seperti masyarakat yang cukup menikmati karya sastra yang dilahirkan oleh si pembuatnya. Sastra memiliki ciri khusus yaitu merupakan cabang seni yang menggunakan media kata-kata, bahasa, tulisan dan ucapan.         
Secara urutan waktu sastra Indonesia dibagi menjadi Pujangga Lama yang di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat, sastra melayu lama, Angkatan Balai Pustaka yang didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra melayu rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar), Pujangga Baru, Angkatan '45 yang diwarnai pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya dan karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya angkatan pujangga baru yang romantik - idealistik., Angkatan 50-an, Angkatan 66-70-an, dasawarsa 80-an , Angkatan reformasi dan Angkatan sekarang ini yaitu angkatan 2000-an.
Dewasa ini kehidupan sastra kita didominasi oleh sastra yang realis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun ke depan, kiranya sastra masih didominasi dengan hal yang sama. Apalagi problem sosial-politik-ekonomi-hukum di Indonesia yang juga belum beres-beres menjadi realita untuk bahan para sastrawan kita untuk menyajikan bebagai macam karya sastra yang dipaparkan lewat berbagai media seperti surat kabar, televise, radio, bahkan lewat media internet.   
Sastra juga identik dengan kehidupan percintaan. Banyak macam karya sastra yang menjadikan hal tersebut sebagai temanya, antara lain adalah puisi, novel, cerpen, drama, dan lagu. Di level remaja dan dewasa saja sudah banyak dari mereka yang ikut serta dalam pembuatan karya sastra. Diberbagai toko buku sudah banyak antologi puisi karya mahasiswa, di berbagai media cetak banyak terpampang novel dan cerpen, di panggung-panggung lokal banyak dipentaskan berbagai macam drama. Berarti potensi untuk melahirkan jutaan karya sastra itu sendiri sudah dimiliki oleh Indonesia.         
Untuk melihat wajah sastra Indonesia di masa depan kita juga perlu membuka mata kita membaca sastra Indonesia saat ini. Sudah lahir masyarakat kita yang sangat berpotensi untuk menciptakan karya sasta baik yang memberikan rasa senang, memberikan informasi, memberikan ajakan positif, mendidik, mengkritik kehidupan sosial, budaya dan politik, bahkan sampai mengangkat cerita dari kehidupan nyata. Potensi tersebut bisa didapat mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, dan para senior sastra Indonesia. Sastra merupakan suatu kebebasan yang bisa merubah banyak hal melalui kritik-kritiknya.   
Beberapa hal yang menjadi hambatan ataupun masalah sastra adalah media. Karya sastra yang dipostingkan melalui surat kabar, majalah, dan buku nampaknya sudah jarang diminati oleh masyarakat luas. Untuk mendapatkan berita saja masyarakat sudah cukup menonton televisi atau membacanya melalui situs-situs internet. Hal tersebut memang lebih simple dan murah daripada harus membeli surat kabar atau majalah setiap harinya. Untuk membaca puisi, masyarakat tanpa harus repot-repot mengeluarkan sejumlah uang untuk ke toko buku dan membeli buku antologi puisi, cukup mengetikkan keyword di dalam search engine lalu muncul berbagai macam puisi. Selain itu minat rendah untuk menikmati karya sastra yang apik juga di miliki oleh masyarakat, contohnya saja jika ada pementasan drama di sebuah kota pasti sebagian besar penonton adalah pelajar dan mahasiswa.   
Media sosial seperti facebook dan twitter sekarang ini bisa menjadi media yang diakses lebih mudah. Banyak juga yang mempostingkan hasil karyanya lewat media tersebut. Tetapi untuk selalu eksis di dunia maya itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu berbagai macam perjuangan agar teman-teman dunia maya tertarik membaca karya sastra. Belum lagi jika terjadi plagiat, menjiplak karya tanpa mencantumkan sumbernya. Ada media lain lagi seperti blog, kompasiana, kaskus, dan forum-forum lainnya untuk mempublikasikan karya sastra. Sayangnya walaupun jaringan internet sudah sampai ke pelosok desa, tetapi masih banyak juga masyarakat yang belum bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan maksimal.
Tantangan lain juga hadir dari karya sastra itu sendiri seperti puisi, cerpen, dan novel atau bahkan lukisan. Karya sastra yang demikian memiliki ciri khas bahasa yang khusus sehingga hanya membaca saja masyarakat sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh si penulis. Contoh lain, seorang guru memberikan contoh hikayat kepada pelajar SMA, sebagian besar dari mereka juga belum bisa mengartikan kalimat-kalimat yang digunakan dalam hikayat yang identik dengan istanasentris. Jadi, bagaimana bisa masyarakat luas seperti ibu bapak kita menikmati sepucuk puisi dari sastrawan handal sekalipun.
Karya sastra yang menggunakan bahasa ibu yang indah saja sudah banyak masyarakat yang tidak bisa mengerti dan menikmati. Apalagi dengan adanya perdagangan bebas dan menipisnya jarak antar bangsa yang menuntut menggunakan satu bahasa yang sama. Bahasa Inggris telah mengglobal, semakin lama bahasa di dunia ini hisa jadi mengerucut menjadi satu bahasa. Tanpa adanya pertahanan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan kuat akan dibawa kemana lagi bahasa dan sastra Indonesia yang indah ini?
Perkembangan teknologi dan bahasa Inggris yang mulai mengglobal dan menipisnya jarak antar bangsa bisa jadi melatarbelakangi sastrawan tanah air mempostingkan karyanya dalam bahasa Inggris dan dimuat di forum atau blog asing. Banyak sekali potensi tetapi wadah di Indonesia tidak memadahi.
Tema sastra yang diangkat juga terkesan monoton. Didominasi oleh tema-tema tertentu. Di sisi lain, hebatnya sastrawan yang tadinya bukan sastrawan seperti Andrea Hirata mampu muncul dengan tema yang berbeda. Kemunculannya di dunia sastra juga banyak menguntungkan Bangka Belitung, tempat di mana shooting film yang diangkat dari novelnya dilakukan. Dari sektor pariwisata, banyak wisatawan Indonesia bahkan luar negeri yang datang ke Bangka Belitung, negeri Laskar Pelangi. Di sektor keuangan hal tersebut juga berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan daerah. Sungguh beliau adalah sastrawan yang luar biasa. Menerbitkan tetralogy Laskar Pelangi dengan label best seller, film yang diminati masyaraka luast, sampai tempat shooting filmpun diburu oleh para wisatawan. Sayangnya, tidak banyak sastrawan kita yang bernasib sama dengan beliau.
Sayang sekali jika potensi masyarakat di Indonesia yang besar untuk terjun ke dunia sastra terhambat oleh segala faktor yang ada. Sangat sempit celah untuk menuju ke permukaan. Sastra dipandang hanya sebagai karya biasa, tidak membawa efek perubahan untuk kehidupan nyata. Sastra tidak menyentuh masalah mereka. Padahal kekuatan sastra itu sangatlah dahsyat, meskipun secara langsung sastra tidak bisa melunasi hutang negara, melamar kekasih orang, menyantuni anak jalanan, membangun sekolah yang roboh, menjerat korupsi dengan hukuman mati, atau membangkitkan mayat sekalipun. Sastra memang tidak dapat melakukan itu, tetapi kekuatannya bisa berpengaruh terhadap terjadinya hal-hal tersebut.
Potensi sudah sangat memadahi dari segi kuantitas, perlu mengasah segi kualitas seperti selalu siap untuk kreatif, selalu tanggap dengan perkembangan jaman, anti pasif, kecerdasan dalam pemilihan diksi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, harus kebal dalam menghadapi segala tantangan yang terjadi dan mengantisipasi bahasa yang mulai mengglobal. Sastra di negeriku lebih perlu catwalk mewah dan wangi untuk pamer tampang.
Sastra akan bangkit di masa depan, dari Indonesia, karena Indonesia dan untuk Indonesia karena sebenarnya sastra Indonesia tidak akan pernah mati selama masyarakat Indonesia ada untuk Indonesia.