Kamis, 07 November 2013

Rindu Tanpa Penyelesaian

Rintik gerimis turun menyentuh tanah dengan lembut. Tak berbeda dengan dua tahun lalu, gerimis dan tangis. Masih di dalam kenangan dua tahun lalu. Membelah tengah malam sunyi dengan membuntuti ambulan hijau yang menuju ke rumah. Sampai di rumah, tak ada pemandangan yang terlihat bahagia di sekitarnya, semua orang hanya mampu diam dan sebagian lagi mencoba menghentikan tangisan. Setelah seharian mata tak terpejam dan dibanjiri oleh tangisan, beberapa lelaki yang entah siapa menghampiriku dan mempersilahkanku mengambil air wudhu. Aku hanya bisa berusaha untuk mampu menyolatinya bersama beberapa lelaki tadi. Sejak tengah malam berada di ruang tamu, baru pagi hari aku berani untuk mendekat ke jenazahnya. Badanku seakan longsor tak berpenopang.

Banyak orang lalu lalang menghiburku, tak terkecuali seorang lelaki yang rela membolos sekolah dan sepertinya terpaksa menemaniku di kamar. Seluruh tenaga dan kekuatanku hilang entah kemana. Semua orang menghiburku dan menemaniku, tapi pikiranku tetap padanya. Pada dia yang masih di ruang tamu. Tak pernah berhenti orang-orang memasuki kamar untuk sekedar menghiburku. Beberapa saat setelah adzan dzuhur seorang tetangga memanggilku agar keluar kamar untuk menyaksikan jenazahnya yang akan segera pergi meninggalkan rumah dan tentunya aku bersama keluargaku. Tak mampu berdiri dengan gagah, dua sahabat menopangku agar mampu berdiri lebih kuat. Semua kerabat keluargaku berkumpul di depan rumah untuk menyaksikan upacara pemberangkatan pemakamannya. Kekuatan kaki ini semakin hilang ketika keranda mulai di angkat. Salah seorang kerabat kerjanya memimpin upacara pemberangkatan pemakaman. Upacara berlangsung dengan sakral dan hikmat. Tak ada suara apapun kecuali aba-aba dari pemimpin upacara, suara terompet, dan tentunya tangisan beberapa orang yang menyaksikan. Suara terompet, terdengar aneh untuk suatu upacara pemakaman, berbeda dengan yang lain. Suaranya yang tegas dan sendu mampu menyayat hati dan memperkuat  kesedihan pelayat. Tapi kehadirannya memang sepertinya wajib dalam upacara pemakaman militer.

Entah apa alasannya, tidak ada seorangpun yang mengijinkanku mengikuti sampai ke pemakaman. Kalaupun boleh mengikutinya pasti aku takkan sanggup menyaksikannya. Sedang banyak orang sibuk dengan pemakamannya, beberapa sahabatku menemani dan menghiburku. Mereka sahabat yang tak akan terlupakan dan tak tergantikan. Luar biasa, menemani seharian tanpa menunjukkan rasa lelah. Entah apa yang mereka bicarakan waktu itu, aku tak begitu mempedulikannya. Tapi keberadaan mereka cukup memberikanku kekuatan lebih untuk tabah dan menerima kenyataan. Karena lari dari kenyataan tak akan pernah berlaku untuk sebuah kematian.

Jenazahnya tak lagi di rumah, seakan keadaan memaksaku untuk mendewasakan diri. Setidaknya dewasa dalam melihat kenyataan. Sekarang tak ada lagi seorang ayah yang ku habiskan kopinya, tak ada lagi seorang ayah yang kadang mengantarku ke sekolah, tak ada lagi ayah yang merawatku saat aku sakit, tak ada lagi ayah yang merebut remote tv untuk menonton berita, tak ada lagi ayah yang menasehatiku tetang aturan kehidupan, tak ada lagi ayah yang membuatkan mie instan atau makanan yang tidak jelas resepnya tetapi rasanya tetap enak, tak ada lagi seorang ayah yang kubukakan pintu gerbang depan rumah saat pulang kerja, tak ada lagi ayah yang mangajakku membeli martabak, roti bakar, atau sate kesukaannya,  tak ada lagi ayah yang saling berbagi cerita di ruang tv. 

Mimpiku tentangnya juga takkan pernah terjadi. Mencium tangannya sesaat sebelum merantau ke Jogja atau pulang dari Jogja dan melihatnya santai menonton tv, takkan pernah terjadi. Sekarang hanya ibu saja yang pandai memperhatikan segala urusanku, tidak yang lain, tidak lagi ayah. Beberapa hal yang membuatku teramat kecewa, ayahku belum menyaksikanku mendapat gelar sarjana. Selalu ingin wisudaku kelak dihadiri oleh ayah, ibu, kakak, dan keluargaku. Dia juga takkan pernah jadi wali nikahku. Tak akan pernah terjadi. Segala keinginanku bersamanya di dunia tak akan terkabul lagi.

Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah mengunjungi makamnya atau mendoakannya lewat percakapanku dengan Tuhan. Beberapa waktu lalu, sempat aku menulis sebait kata-kata.

papan putih berjejer rapi dihias helm-helm tua

melewati kuburan masal enam belas mayat tak bernama

berhenti di tempat tidurmu di pojok sana

rindu manja tanpa tetes air mata


taman makam pahlawan wirapati

15 september 2013


Akan selalu kuingat semua tentangnya, tentang pengorbanannya, tentang kasih sayangnya, tentang segalanya, dan tentang kecupan terakhir darinya beberapa hari sebelum Tuhan memanggilnya. Semoga selalu tenang di sana, selamat menikmati surga atas do'a anakmu.

Selalu merindukanmu, rindu tanpa penyelesaian.

Ditulis beberapa menit sebelum ujian Statistik

Senin, 28 Oktober 2013

Di Atas Ranjang

malam ini
sang hujan mulai menapakkan kaki
menebar kabar gembira
tentang kering yang menjadi basah
tentang jejak tangis yang menjadi embun

bercumbulah bersama kekasih
di atas ranjang berbisik lirih
bertekuk lutut dengan rasa hina
mengangkat tangan terbelah dua
sembari memohon ampunan
atas segala kenistaan

malaikat di atas sana juga menari-nari
mengaamiini segala bisikanmu kepada kekasih
terkabullah segala kemesraan
di bawah hujan malam ini

 Sidikan, 28 Oktober 2013

Minggu, 06 Oktober 2013

Pengertian dan Macam-Macam Feature

Pengertian Feature
Feature adalah kerangka lengkap nonfiksi, bukan berita lempang yang dimuat dalam media masa, yang tidak tentu panjangnyadan di paparkan secara hidup. Sebagai pengungkapan daya kreatif, dengan sentuhan subjektif (penulis) terhadap peristiwa, situasi, aspek kehidupan, dengan tekanan pada daya pikat manusiawai (human interest) untuk mencapai tujuan memberi informasi, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca.

Macam atau Jenis Feature
Kelompok Penjelasan (explanation)  dan Kelompok Bujukan (penetration)
1. Kelompok Penjelasan
a. Feature berita (news feature)
Dasarnya adalah berita lempang. 
Contoh judul feature berita : ‘’Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga’’

b. Feature Sejarah (Historical Feature)
Dasarnya adalah Fakta sejarah. 
Contoh judul feature sejarah : ‘’Benteng Vreden Berg : Dulu dan Sekarang’’

c. Feature Perayaan atau Peristiwa Musiman (seasonal feature)
Dasarnya adalah peristiwa budaya, tradisi. 
Contoh judul feature perayaan : ‘’memandang Skaten di Era Modern’’

d. Feature Sosok Pribadi (Personality Profil Feature)
Dasarnya adalah biografi, autobiografi, kisah sukses. 
Contoh judul featur sosok pribadi : ‘’Gagal jadi PNS, jadi Millyader’’

e. Feature Daya Pikat (Human Interest Feature)
Dasarnya adalah peristiwa atau kiah dramatis. 
Contoh judul feature daya pikat : ‘’Kaki boleh Cacat, Semangat tetap Hebat’’

f. Feature Latar Belakang (background feature)
Dasarnya adalah peristiwa sebab akibat. 
Contoh feature latar belakang : ‘’ Gara-Gara Istri Tetangganya, Ketiga Anaknya Masuk Penjara’’

g. Feature Pembuka Tabir (Curtain raiser feature)
Dasarnya adalah kisah yang meddasari peristiwa yang akan terjadi. 
Contoh judul feature pembuka tabir : ‘’Semangat di Waktu Muda, Tenag di Waktu Tua’’

h. Feature Wisata (Travel Featur)
Dasarnya adalah perjalanan wisata. 
Contoh judul feature wisata : ‘’Parangtritis di Siang Hari, Parang Tritis di Malam Hari’’

2. Kelompok Bujukan
a. Feature Ilmu Pengetahuan (serence report feature)
Dasarnya adalah ilmu pengetahuan. 
Contoh judul feature ilmu pengetahuan :’’Teknik Rahasia Di Balik Mesin Tetas Telur’’

b. Feature Berita Analisis (news analysis feature)
Dasarnya adalah berita yang kompleks. 
Contoh judul feature analisis :’’Data Palsu Tragedi Bom Bali’’

c. Feature Laporan Berkedalaman (in-depth feature)
Dasarnya adalah peristiwa yang kompleks saling berkaitan. 
Contoh feature laporan berkedalaman: ‘’Pendidikan, kejahatan, dll’’

Judul (Title) Feature
• Harus menggugah perhatian
• Harus kreatif dan original

Teras (Lead) Feature
• Teras (sebagai jiwa raga karangan) terwujud dalam paragraf pertama. Paragraf pertama itu mengemban fungsi sebagai gagasan sentral. Fungsinya gagasan sentral adalah untuk mengendalikan isi tulisan dan mewajibkan penulis membatasi tulisannya.

• Harus menarik perhatian. Beberapa unsur yang menarik perhatian dan diinginkan pembaca biasanya berkaitan dengan kebaruan, kedekatan, coretan, keanehan, dll.

Macam-Macam Teras (Lead)
1.    Teras Narasi (kisah, cerita)
2.    Teras Kontra (berbentuk perbandingan)
3.    Teras Mengarah Langsung (sapaan akrab)
4.    Teras Stakato (hentakan)
5.    Teras Pertanyaan
6.    Teras Kutipan Langsung
7.    Teras Ringkasan (sama dengan teras berita lempang)
8.    Teras Deskriptif
9.    Teras Penggoda
10.  Teras Aneh
11.  Teras Tiruan Bunyi

Senin, 22 April 2013

POTENSI YANG BESAR BERBANDING LURUS DENGAN TANTANGAN YANG BESAR



Sastra adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sastra lebih dari sekedar dunia imajinatif, perekam segala yang terjadi, pameran karya, bahkan lebih dari penampilan sebuah kejaiban. Banyak sekali orang yang tidak mengetahui apa sastra itu sebenarnya. Padahal hampir setiap hari kita menemukan karya sastra, antara lain adalah novel, cerita, cerpen, syair, pantun, drama, lukisan dan kaligrafi.
Tanpa kita tahu apa definisi tepat dari sastra, kita bisa mengibaratkan sastra dengan teko dan gelas yang disajikan di warung makan. Pelayan di dapur yang menuangkan air teko ke dalam gelas bagaikan sesorang yang membuat karya sastra, sedangkan tamu yang dijamu segelas air bagai penikmat karya sastra. Tamu-tamu yang ada di warung makan cukup memesan kemudian menikmati apa yang disajikan oleh pelayan. Sama seperti masyarakat yang cukup menikmati karya sastra yang dilahirkan oleh si pembuatnya. Sastra memiliki ciri khusus yaitu merupakan cabang seni yang menggunakan media kata-kata, bahasa, tulisan dan ucapan.         
Secara urutan waktu sastra Indonesia dibagi menjadi Pujangga Lama yang di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat, sastra melayu lama, Angkatan Balai Pustaka yang didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra melayu rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar), Pujangga Baru, Angkatan '45 yang diwarnai pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya dan karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya angkatan pujangga baru yang romantik - idealistik., Angkatan 50-an, Angkatan 66-70-an, dasawarsa 80-an , Angkatan reformasi dan Angkatan sekarang ini yaitu angkatan 2000-an.
Dewasa ini kehidupan sastra kita didominasi oleh sastra yang realis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun ke depan, kiranya sastra masih didominasi dengan hal yang sama. Apalagi problem sosial-politik-ekonomi-hukum di Indonesia yang juga belum beres-beres menjadi realita untuk bahan para sastrawan kita untuk menyajikan bebagai macam karya sastra yang dipaparkan lewat berbagai media seperti surat kabar, televise, radio, bahkan lewat media internet.   
Sastra juga identik dengan kehidupan percintaan. Banyak macam karya sastra yang menjadikan hal tersebut sebagai temanya, antara lain adalah puisi, novel, cerpen, drama, dan lagu. Di level remaja dan dewasa saja sudah banyak dari mereka yang ikut serta dalam pembuatan karya sastra. Diberbagai toko buku sudah banyak antologi puisi karya mahasiswa, di berbagai media cetak banyak terpampang novel dan cerpen, di panggung-panggung lokal banyak dipentaskan berbagai macam drama. Berarti potensi untuk melahirkan jutaan karya sastra itu sendiri sudah dimiliki oleh Indonesia.         
Untuk melihat wajah sastra Indonesia di masa depan kita juga perlu membuka mata kita membaca sastra Indonesia saat ini. Sudah lahir masyarakat kita yang sangat berpotensi untuk menciptakan karya sasta baik yang memberikan rasa senang, memberikan informasi, memberikan ajakan positif, mendidik, mengkritik kehidupan sosial, budaya dan politik, bahkan sampai mengangkat cerita dari kehidupan nyata. Potensi tersebut bisa didapat mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, dan para senior sastra Indonesia. Sastra merupakan suatu kebebasan yang bisa merubah banyak hal melalui kritik-kritiknya.   
Beberapa hal yang menjadi hambatan ataupun masalah sastra adalah media. Karya sastra yang dipostingkan melalui surat kabar, majalah, dan buku nampaknya sudah jarang diminati oleh masyarakat luas. Untuk mendapatkan berita saja masyarakat sudah cukup menonton televisi atau membacanya melalui situs-situs internet. Hal tersebut memang lebih simple dan murah daripada harus membeli surat kabar atau majalah setiap harinya. Untuk membaca puisi, masyarakat tanpa harus repot-repot mengeluarkan sejumlah uang untuk ke toko buku dan membeli buku antologi puisi, cukup mengetikkan keyword di dalam search engine lalu muncul berbagai macam puisi. Selain itu minat rendah untuk menikmati karya sastra yang apik juga di miliki oleh masyarakat, contohnya saja jika ada pementasan drama di sebuah kota pasti sebagian besar penonton adalah pelajar dan mahasiswa.   
Media sosial seperti facebook dan twitter sekarang ini bisa menjadi media yang diakses lebih mudah. Banyak juga yang mempostingkan hasil karyanya lewat media tersebut. Tetapi untuk selalu eksis di dunia maya itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu berbagai macam perjuangan agar teman-teman dunia maya tertarik membaca karya sastra. Belum lagi jika terjadi plagiat, menjiplak karya tanpa mencantumkan sumbernya. Ada media lain lagi seperti blog, kompasiana, kaskus, dan forum-forum lainnya untuk mempublikasikan karya sastra. Sayangnya walaupun jaringan internet sudah sampai ke pelosok desa, tetapi masih banyak juga masyarakat yang belum bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan maksimal.
Tantangan lain juga hadir dari karya sastra itu sendiri seperti puisi, cerpen, dan novel atau bahkan lukisan. Karya sastra yang demikian memiliki ciri khas bahasa yang khusus sehingga hanya membaca saja masyarakat sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh si penulis. Contoh lain, seorang guru memberikan contoh hikayat kepada pelajar SMA, sebagian besar dari mereka juga belum bisa mengartikan kalimat-kalimat yang digunakan dalam hikayat yang identik dengan istanasentris. Jadi, bagaimana bisa masyarakat luas seperti ibu bapak kita menikmati sepucuk puisi dari sastrawan handal sekalipun.
Karya sastra yang menggunakan bahasa ibu yang indah saja sudah banyak masyarakat yang tidak bisa mengerti dan menikmati. Apalagi dengan adanya perdagangan bebas dan menipisnya jarak antar bangsa yang menuntut menggunakan satu bahasa yang sama. Bahasa Inggris telah mengglobal, semakin lama bahasa di dunia ini hisa jadi mengerucut menjadi satu bahasa. Tanpa adanya pertahanan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan kuat akan dibawa kemana lagi bahasa dan sastra Indonesia yang indah ini?
Perkembangan teknologi dan bahasa Inggris yang mulai mengglobal dan menipisnya jarak antar bangsa bisa jadi melatarbelakangi sastrawan tanah air mempostingkan karyanya dalam bahasa Inggris dan dimuat di forum atau blog asing. Banyak sekali potensi tetapi wadah di Indonesia tidak memadahi.
Tema sastra yang diangkat juga terkesan monoton. Didominasi oleh tema-tema tertentu. Di sisi lain, hebatnya sastrawan yang tadinya bukan sastrawan seperti Andrea Hirata mampu muncul dengan tema yang berbeda. Kemunculannya di dunia sastra juga banyak menguntungkan Bangka Belitung, tempat di mana shooting film yang diangkat dari novelnya dilakukan. Dari sektor pariwisata, banyak wisatawan Indonesia bahkan luar negeri yang datang ke Bangka Belitung, negeri Laskar Pelangi. Di sektor keuangan hal tersebut juga berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan daerah. Sungguh beliau adalah sastrawan yang luar biasa. Menerbitkan tetralogy Laskar Pelangi dengan label best seller, film yang diminati masyaraka luast, sampai tempat shooting filmpun diburu oleh para wisatawan. Sayangnya, tidak banyak sastrawan kita yang bernasib sama dengan beliau.
Sayang sekali jika potensi masyarakat di Indonesia yang besar untuk terjun ke dunia sastra terhambat oleh segala faktor yang ada. Sangat sempit celah untuk menuju ke permukaan. Sastra dipandang hanya sebagai karya biasa, tidak membawa efek perubahan untuk kehidupan nyata. Sastra tidak menyentuh masalah mereka. Padahal kekuatan sastra itu sangatlah dahsyat, meskipun secara langsung sastra tidak bisa melunasi hutang negara, melamar kekasih orang, menyantuni anak jalanan, membangun sekolah yang roboh, menjerat korupsi dengan hukuman mati, atau membangkitkan mayat sekalipun. Sastra memang tidak dapat melakukan itu, tetapi kekuatannya bisa berpengaruh terhadap terjadinya hal-hal tersebut.
Potensi sudah sangat memadahi dari segi kuantitas, perlu mengasah segi kualitas seperti selalu siap untuk kreatif, selalu tanggap dengan perkembangan jaman, anti pasif, kecerdasan dalam pemilihan diksi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, harus kebal dalam menghadapi segala tantangan yang terjadi dan mengantisipasi bahasa yang mulai mengglobal. Sastra di negeriku lebih perlu catwalk mewah dan wangi untuk pamer tampang.
Sastra akan bangkit di masa depan, dari Indonesia, karena Indonesia dan untuk Indonesia karena sebenarnya sastra Indonesia tidak akan pernah mati selama masyarakat Indonesia ada untuk Indonesia.