Rintik gerimis turun menyentuh tanah dengan lembut. Tak berbeda dengan dua tahun lalu, gerimis dan tangis. Masih di dalam kenangan dua tahun lalu. Membelah tengah malam sunyi dengan membuntuti ambulan hijau yang menuju ke rumah. Sampai di rumah, tak ada pemandangan yang terlihat bahagia di sekitarnya, semua orang hanya mampu diam dan sebagian lagi mencoba menghentikan tangisan. Setelah seharian mata tak terpejam dan dibanjiri oleh tangisan, beberapa lelaki yang entah siapa menghampiriku dan mempersilahkanku mengambil air wudhu. Aku hanya bisa berusaha untuk mampu menyolatinya bersama beberapa lelaki tadi. Sejak tengah malam berada di ruang tamu, baru pagi hari aku berani untuk mendekat ke jenazahnya. Badanku seakan longsor tak berpenopang.
Banyak orang lalu lalang menghiburku, tak terkecuali seorang lelaki yang rela membolos sekolah dan sepertinya terpaksa menemaniku di kamar. Seluruh tenaga dan kekuatanku hilang entah kemana. Semua orang menghiburku dan menemaniku, tapi pikiranku tetap padanya. Pada dia yang masih di ruang tamu. Tak pernah berhenti orang-orang memasuki kamar untuk sekedar menghiburku. Beberapa saat setelah adzan dzuhur seorang tetangga memanggilku agar keluar kamar untuk menyaksikan jenazahnya yang akan segera pergi meninggalkan rumah dan tentunya aku bersama keluargaku. Tak mampu berdiri dengan gagah, dua sahabat menopangku agar mampu berdiri lebih kuat. Semua kerabat keluargaku berkumpul di depan rumah untuk menyaksikan upacara pemberangkatan pemakamannya. Kekuatan kaki ini semakin hilang ketika keranda mulai di angkat. Salah seorang kerabat kerjanya memimpin upacara pemberangkatan pemakaman. Upacara berlangsung dengan sakral dan hikmat. Tak ada suara apapun kecuali aba-aba dari pemimpin upacara, suara terompet, dan tentunya tangisan beberapa orang yang menyaksikan. Suara terompet, terdengar aneh untuk suatu upacara pemakaman, berbeda dengan yang lain. Suaranya yang tegas dan sendu mampu menyayat hati dan memperkuat kesedihan pelayat. Tapi kehadirannya memang sepertinya wajib dalam upacara pemakaman militer.
Entah apa alasannya, tidak ada seorangpun yang mengijinkanku mengikuti sampai ke pemakaman. Kalaupun boleh mengikutinya pasti aku takkan sanggup menyaksikannya. Sedang banyak orang sibuk dengan pemakamannya, beberapa sahabatku menemani dan menghiburku. Mereka sahabat yang tak akan terlupakan dan tak tergantikan. Luar biasa, menemani seharian tanpa menunjukkan rasa lelah. Entah apa yang mereka bicarakan waktu itu, aku tak begitu mempedulikannya. Tapi keberadaan mereka cukup memberikanku kekuatan lebih untuk tabah dan menerima kenyataan. Karena lari dari kenyataan tak akan pernah berlaku untuk sebuah kematian.
Jenazahnya tak lagi di rumah, seakan keadaan memaksaku untuk mendewasakan diri. Setidaknya dewasa dalam melihat kenyataan. Sekarang tak ada lagi seorang ayah yang ku habiskan kopinya, tak ada lagi seorang ayah yang kadang mengantarku ke sekolah, tak ada lagi ayah yang merawatku saat aku sakit, tak ada lagi ayah yang merebut remote tv untuk menonton berita, tak ada lagi ayah yang menasehatiku tetang aturan kehidupan, tak ada lagi ayah yang membuatkan mie instan atau makanan yang tidak jelas resepnya tetapi rasanya tetap enak, tak ada lagi seorang ayah yang kubukakan pintu gerbang depan rumah saat pulang kerja, tak ada lagi ayah yang mangajakku membeli martabak, roti bakar, atau sate kesukaannya, tak ada lagi ayah yang saling berbagi cerita di ruang tv.
Mimpiku tentangnya juga takkan pernah terjadi. Mencium tangannya sesaat sebelum merantau ke Jogja atau pulang dari Jogja dan melihatnya santai menonton tv, takkan pernah terjadi. Sekarang hanya ibu saja yang pandai memperhatikan segala urusanku, tidak yang lain, tidak lagi ayah. Beberapa hal yang membuatku teramat kecewa, ayahku belum menyaksikanku mendapat gelar sarjana. Selalu ingin wisudaku kelak dihadiri oleh ayah, ibu, kakak, dan keluargaku. Dia juga takkan pernah jadi wali nikahku. Tak akan pernah terjadi. Segala keinginanku bersamanya di dunia tak akan terkabul lagi.
Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah mengunjungi makamnya atau mendoakannya lewat percakapanku dengan Tuhan. Beberapa waktu lalu, sempat aku menulis sebait kata-kata.
papan putih berjejer rapi dihias helm-helm tua
melewati kuburan masal enam belas mayat tak bernama
berhenti di tempat tidurmu di pojok sana
rindu manja tanpa tetes air mata
taman makam pahlawan wirapati
15 september 2013
Akan selalu kuingat semua tentangnya, tentang pengorbanannya, tentang kasih sayangnya, tentang segalanya, dan tentang kecupan terakhir darinya beberapa hari sebelum Tuhan memanggilnya. Semoga selalu tenang di sana, selamat menikmati surga atas do'a anakmu.
Selalu merindukanmu, rindu tanpa penyelesaian.
Ditulis beberapa menit sebelum ujian Statistik
Ditulis beberapa menit sebelum ujian Statistik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar